Objektifikasi Perempuan Lewat Tren TikTok “PoV Unboxing Mahar” (3-Habis)
Teori Objektifikasi muncul dalam kajian psikologi perempuan dan diperkenalkan oleh psikolog asal Amerika Serikat Barbara L. Fredrickson dan Tomi-Ann Roberts. Teori ini menjelaskan, pengalaman seksualisasi dan objektifikasi perempuan akan berdampak serius bagi kesehatan mental perempuan.
MEREKA juga menjelaskan bahwa dalam budaya yang sarat objektifikasi seksual, tubuh perempuan diperlakukan sebagai objek untuk dinilai berdasarkan kegunaan dan penampilannya bagi orang lain. Mereka menulis bahwa perempuan, “Exist in a culture that sexually objectifies the female body (hidup di tengah budaya yang mengobjektifikasi tubuh perempuan secara seksual),” sehingga tubuh perempuan kerap direduksi menjadi sesuatu yang dinilai sebagian besar atas kegunaan (atau konsumsi) oleh orang lain.
Ketika tren ini menggunakan istilah “unboxing”, pilihan katanya sendiri sudah mengandung logika benda. Istilah “unboxing” atau “membuka” lazim dipakai untuk membuka gawai baru, sepatu, tas, atau barang mewah lain yang dibeli dan dicek kelayakannya. Saat kata itu dilekatkan pada mahar dan secara implisit pada perempuan, yang sedang dinormalisasi adalah imajinasi bahwa perempuan dapat “dibuka”, diperiksa, lalu diberi penilaian layak atau tidak layak.
Fredrickson dan Roberts menyebut proses ini sebagai objektifikasi seksual. Yaitu ketika tubuh atau bagian tubuh seseorang dipisahkan dari dirinya sebagai pribadi dan diperlakukan seolah mewakili keseluruhan dirinya. Dalam konteks tren ini, perempuan tidak lagi tampil sebagai subjek dalam suatu relasi, melainkan sebagai representasi nilai uang yang menyertainya. Tubuh dan martabatnya seolah melekat pada nominal mahar yang tertulis di layar.
Yang lebih halus, namun tak kalah berbahaya, adalah dampak psikologis dari budaya seperti ini. Teori objektifikasi menjelaskan bahwa ketika perempuan terus-menerus diposisikan sebagai objek penilaian, mereka dapat menginternalisasi pandangan tersebut dan mulai melihat diri mereka sendiri dari kacamata orang luar. Proses ini disebut objektifikasi diri. Perempuan belajar mengawasi tubuhnya sendiri, menilai dirinya berdasarkan standar eksternal, dan mengukur harga dirinya dari seberapa “layak” ia di mata orang lain.
Dalam ruang digital yang penuh kamera dan komentar, mekanisme ini bekerja semakin cepat. Setiap ekspresi jijik atau puas dalam video “unboxing mahar” bukan sekadar akting. Ia adalah pesan simbolik tentang standar. Tentang siapa yang dianggap pantas dihargai tinggi dan siapa yang bisa ditertawakan. Ketika ribuan orang menyaksikan, menyukai, dan membagikan video tersebut, pesan itu ikut diperkuat.
Humor mempercepat normalisasi itu. Banyak pembuat konten berlindung di balik dalih bercanda. Namun, bagi Argo, humor tidak pernah netral. “Kemasan humor itu perspektif zaman sekarang. Tapi humor seharusnya mengarah pada kesadaran, bukan justru memperkuat pelecehan,” katanya.
Ketika “unboxing mahar” menjadi tren ‘lelucon’, pelecehan terhadap perempuan seakan-akan dianggap layak menjadi bahan tertawaan. Ini tak luput dari pemikiran seksis yang menyebabkan mudahnya untuk meletakkan perempuan di posisi serendah mungkin sebagai objek kelakar.
Lalu tak jarang, ketika perempuan mengungkapkan ketidaknyamanannya terhadap humor seksis yang merendahkan atau melecehkan, respons yang datang justru berupa pembungkaman halus seperti “serius banget sih, kan cuma bercanda.” Atau, perempuan dianggap “berlebihan” melihat humor itu.
Dengan label “bercanda”, perasaan tidak aman dianggap berlebihan, sementara pelaku terbebas dari tanggung jawab atas dampak ucapannya. Dalam kajian feminis, humor seksis kerap dipahami sebagai bentuk kekerasan simbolik. Bemiller dan Schneider dalam artikel akademis mereka “It’s Not Just a Joke” menjelaskan bahwa humor seksis bekerja untuk menundukkan perempuan dengan cara yang tampak ringan, tetapi sesungguhnya mengukuhkan relasi kuasa.
Dalam tren “PoV unboxing mahar”, mekanisme gaslighting ini bekerja berlapis. Pertama, perempuan diobjektifikasi melalui konten. Kedua, ketika perempuan protes, mereka dituduh “tidak bisa bercanda” atau “terlalu sensitif”. Ketiga, narasi ini disebarluaskan hingga perempuan yang lain mulai meragukan validitas perasaan mereka sendiri. Akibatnya, kritik terhadap misogini menjadi semakin sulit disuarakan karena sudah lebih dulu dibingkai sebagai “berlebihan”.
Tren “PoV unboxing mahar” mungkin akan berlalu seperti tren-tren lainnya. Dalam hitungan minggu, akan ada format baru, lelucon baru, cara baru untuk mengemas hal yang sama: merendahkan perempuan. Tapi jejak yang ditinggalkannya tidak sesederhana itu.
Setiap kali perempuan dijadikan objek lelucon, setiap kali tubuh dan martabat perempuan direduksi menjadi materi hiburan, setiap kali masyarakat tertawa dan menganggapnya wajar, kita sedang membangun fondasi bagi kekerasan yang lebih besar. Karena objektifikasi adalah akar dari segala bentuk kekerasan berbasis gender. Ketika perempuan tidak lagi dilihat sebagai manusia utuh, menjadi mudah untuk melecehkan, mengontrol, dan menyakiti mereka. Maka stop humor seksis, itu tidak lucu. (dulce maria bella natalie/konde.co)



